Kamis, 18 September 2014

Desy


“De, anterin gue ke Sogo dong. Ada sale gede-gede nih”, telpon Desy sore ini.
“Lo kan baru pulang dari Singapura kok udah mau belanja lagi sih? Duit lo kebanyakan yah, Des?”
“Sialan lo ! bukan gitu. Gue mau nyari rok untuk pesta kantor papa hari sabtu besok. Lo kan tau gue nggak pernah punya rok. Besok anterin gue yah, De, betul lho …”
“Tapi gue gak punya duit Des. Maklum anak kos. Lo ngerti sendiri kan?”
“Ala, soal transport gue yang nanggung deh. Gue kan bawa mobil. Makan juga gue traktir. Lagian lo cuman nganterin gue. Gue jamin deh lo nggak bakal kegoda beli macem-macem. Nggak kaya gue kan? Lo sih orangnya hemat, penuh perhitungan, dan bisa ngendaliin diri dengan baik. Kadang gue salut juga sama lo. Tapi untuk ngikutin jejak lo, nggak janji deh, susah!”
Aku cuman senyum dengan kata-kata Desy. Biar aku dan Desy sudah bersahabat dua tahun tapi tetap aja kita berbeda prinsip dalam soal uang. Mungkin bagi Desy aku terlalu hemat dan aku menganggap Desy terlalu boros.
Tapi yang jelas Desy memang biang belanja. Apalagi kalau ada sale gede-gedean. Bukan namanya Desy kalau nggak pergi. Untung aja dia punya credit card yang bisa muasin hobi belanjanya itu. Coba kalau kaya aku yang anak kos gini? Hihihi. Kayaknya maksa deh!
Sepulang sekolah Desy langsung ngajakin ke Sogo. Desy nggak Cuma puas beli rok tapi juga hem, kaos oblong, blus sampai pakaian dalam. Nemenin dia belanja capek juga. Mana dia kuat banget keluar masuk showroom untuk melihat-lihat. Kalau cocok beli.
“Kita ke Golden Trully yang di Tendean ya De. Gue mau cari sepatu. Mumpung masih sale”, ajaknya setelah makan di Burger King.
Aku nggak enak nolak. Apalagi sudah ditraktir seperti ini. Tapi ngebayangin macetnya, capeknya nemenin dia belanja belum kalau banyak orang yang belanja di Golden Trully. Mumet!
Kepalaku mendadak pusing melihat orang berjubelan memenuhi Golden Trully. Maklum tanggal muda. Banyak ibu-ibu muda yang belanja di supermarketnya.
Sudah setengah jam bolak-balik tapi sepatu yang dicari Desy nggak ketemu. Kepalaku sudah nyut-nyutan tapi Desy minta ditemenin belanja bulanan di supermarket Golden Trully karena nyokapnya mau pergi ke Surabaya untuk beberapa minggu.
Mana Desy nggak langsung ambil barang-barang yang dia butuhin. Tapi malah lihat-lihat harga. Katanya sih buat perbandingan. Kalau aku lebih suka nurutin cara mama yang suka bawa secarik kertas berisi daftar belanjaan kalau mau belanja. Menurutku lebih hemat waktu dan nggak bisa kegoda untuk beli barang-barang yang nggak dibutuhin.
“Kok lo malah beli bedak dan lipstick sih Desy nggak beli bahan-bahan makanan dulu?” tanyaku heran begitu melihat Desy berdiri khusuk didepan rak kecantikan.
“Nanti aja deh. Kita ke counter buah-buah yuk! Reni nitip minta beliin apel malang dan jeruk mandarin”, Desy menarik tanganku.
“Terusa apalagi ya?”
Desy sibuk mikir-mikir. Keranjang belanjaannya sudah full tapi Desy masih kebingungan seperti itu. Ku lirik jam tangan dengan jengkel. Nggak kerasa sudah hampir jam lima sore. Aduuuh Desy kok tahan sih belanja?
“De anterin gue ke Atrium dong. Salenya sampai 70% nih. Lumayan kan?”.
Beberapa hari kemudian Desy nelepon lagi. Aduuh, giimana nolaknya? Swer, nggak lagi deh nemenin si ‘shoppaholic’ itu. Biar ditanggung transport dan makan, tapi capeknya itu. Mana aku paling nggak suka shopping kayak Desy. Sebetulnya selama ini aku tersiksa banget nemenin dia belanja. Tapi gimana nolaknya ya?
“Tunggu Des, jangan ditutup teleponnya dulu. Kayaknya Pram datang deh. Bentar ya Des”. Setengah berlari kubuka pintu. Pram tersenyum manis. Sore ini penampilannya sportif dengan kaos tim basket.
“Besok ke Gramedia yuk De. Cari novel Agatha Christie yang terbaru….”,
belum Pram selesai ngomong aku sudah mengangguk suka cita. Mendengar took buku atau took kaset, mataku langsung berbinar-binar. Aku lebih suka nongkrong di dua tempat itu ketimbang ke mall-mall.
“Sorry Des, gue nggak bisa. Soalnya Pram ngajakin ke Gramedia”.
“yah lo nggak bisa nemenin gue shopping dong?” nada  suaranya terdengar sedih.
“Makanya cari pacar dong Des”
“Emangnya ada cowo yang tahan nemenin gue shopping?”
“Ada aja sih. Tapi kalau nggak ada juga mendingan di rem deh emosi belanja lo” nasehatku akhirnya keluar juga “Soalnya kalo lo nurutin terus emosi belanja lo, percaya deh berapapun duit yang lo punya bakal abis. Mendingan kan lo tabung Des. Lo boleh ketawain nasehat gue tapi renungin deh kata-kata gue bentar. Nggak selamanya kan kita punya uang terus. Suatu saat kita baru ngerasain kalo nabung itu perlu. Percaya deh Des”
Desy diam. Lamaa. Mungkin mau cernain kata-kataku. Kuisyaratkan pada Pram supaya menunggu. Dia mengacungkan jempolnya mendengar nasehatku untuk Desy.
“Makasih atas nasehat lo De. Mudah-mudahan gue bisa berubah”, kata Desy akhirnya.
Aku sudah takut aja Desy bakal nggak mau nerima nasehatku.
“Yuk, salam untuk Pram. Bye-bye De!”
Aku menarik napas lega. Legaaa banget.

****

               


Rabu, 17 September 2014

Penyesalan Tasha



Jam sepuluh pagi Tasha baru saja bangun. Aku yang sudah selesai jogging bareng Papa, cuma bisa mendelik kesal ketika Tasha dengan santai meneguk susu coklat sambil nonton Film Keluarga-nya RCTI. Dia masih bergaun tidur dengan rambut acak-acakan.
     “Mandi dulu dong, Tasha!” tegur Mama dengan secarik daftar belanjaan di tangan.
     “Nanti dulu, Mam. Mbak Tita juga belum.”
     “Mbak sih habis jogging, nah kamu jam segini baru bangun,” omelku kesal. Tapi Tasha cuek. Dia asyik nonton tanpa mempedulikan kata-kataku.
     “Ta, temenin Mama ke Golden Truly, ya?” Pinta Mama yang tentu saja tak dapat kutolak.
     Lagi-lagi aku mendelik kesal ke arah Tasha. Heran kenapa aku terus yang kebagian nemenin Mama. Mentang-mentang si manja itu pernah sekali menolak. Karena itu Mama tidak penah mencobanya lagi.
     “Tasha, kamu saja deh yang nemenin Mama. Sekali-kali dong,” bujukku dengan suara lembut setelah Mama balik lagi ke dapur.
     “Enggak ah, Tasha mau nonton film ini,” jawabnya tegas.
Aku mandi dengan perasaan dongkol. Padahal nanti aku harus mengetik bahan-bahan mading yang akan terbit Rabu besok. Tapi untuk menolak Mama, aku tidak tega. Terpaksa aku harus mengalah lagi.
     Kukenakan kaos oblong putih jeans belel dan kets putih. Sedangkan Mama begitu cantik dengan blus pink, rok motif bunga-bunga dengan warna lembut dan sepatu sandalnya. Hmm, Mama jadi kelihatan muda dengan dandanan seperti itu. Pasti tidak ada yang menyangka kalau kedua putrinya sudah remaja.
     “Mmm, jangan lupa pesanan Tasha semalam!” ugh, pasti beraneka cemilan kesukaannya. Coklat, ice cream, Dunkin Donat, Chitato ukuran big, roti cokelat dan lain-lain. Heran, biar doyan ngemil tapi tetap saja badannya langsing. Tidak seperti aku yang mau kurus saja susahnya minta ampun. Padahal sudah berbagai diet aku coba. Mungkin keturunan Papa yang memang sudah rada gendut dari sananya. Sedangkan Tasha keturunan Mama yang tetap langsing biar umurnya sudah mendekati empat puluh.
     Kami pamit pada Papa yang asyik membaca Kompas di teras. Mama mengemudikan mobil dengan santai.
     Mama mengenakan kacamata rayban untuk menghindari matahari. Hmm, Mama jadi kelihatan tambah keren.
     Di lampu merah perempatan jalan Senopati, di sisi Mama ada sebuah mobil Forsa yang isinya dua cowok modis. Tapi mama cuek, tetap konsentrasi mengemudikan mobil.
     Kalau ada Tasha pasti anak itu ribut. Sibuk mengomeli penggoda Mama. Tapi tentu saja Tasha jadi korban godaan mereka berikutnya. Soalnya Tasha tidak kalah cantiknya dengan Mama. Kalau aku, malas untuk meladeni cowok-cowok iseng seperti itu. Mau menegur mereka saja aku minder duluan. Kadang kala aku suka sedih. Kenapa sih aku tidak cantik seperti Mama dan Tasha.
     Seperti biasa setiap minggu pagi Mama belanja kebutuhan sehari-hari untuk seminggu penuh. Kecuali sayur, ikan, daging, ayam dan buah, kalau kurang Mama pasti menyuruh Mbok Yem belanja di Pasar Santa.
     Sampai di rumah Tasha sudah menunggu di teras bareng Papa. Siang ini dia cukup lincah dengan kaos oblong biru dan celana pendek jeans. Dengan rambut ala Demi Moore seperti itu, dia jadi kelihatan cantik sekali.
     “Duh Mama, lama banget ditungguin,” Tasha cuma menyambar Dunkin Donat tanpa mempedulikan aku yang kerepotan membawa tas-tas plastik kedapur.
     “Oya, tadi Riko kesini nganterin bahan-bahan mading. Tuh, Tasha simpan di meja makan,” kata nya seraya mengambil donat isi strawberry.
     “Kenapa enggak disuruh nunggu sih?” aku mendelik kesal.Selera ku untuk meneguk jus jeruk dingin hilang karena ulah nya. Padahal kami harus diskusi soal bahan-bahan mading yang harus diedit.
     Ala,cuma Rico ini, ngapain sih harus disuruh nunggu segala?” jawabnya seenaknya. Ini salah satu sifat yang paling aku benci. Suka memandang orang dari kekayaan, kebekenan, atau kekerenannya.
     “Tasha, kok gitu sih?” omel Mama dengan suara lembut.
     “Habis temen-temen mbak Tita enggak ada yang oke sih, Mam. Lain ‘kan sama Tasha,” katanya nyebelin. Aku cuma diam. Soalnya kalau diterusin bakal tidak selesai-selesai. Tasha mana mau mengalah.

***

PA, kita makan siang di Bakmi Gajah Mada PI Mall aja. Sekalian Tasha mau nyari tas ransel yang kayak Ivo. Bagus deh, Pa,” mulai deh manja merayu
     “Lho, ‘kan baru minggu lalu kamu beli tas Esprit. Sekarang mau beli lagi?”
     “Tapi Tasha kan enggak punya tas ransel. Lagian tas ransel itu fleksibel, bisa dibawa kemana aja, Pa. Ke sekolah, kemping, les, fitnes, berenang, dan....”
     “Ke pesta,” potongku sebel. Tasha mulai cemberut. Sebentar lagi pasti ngambek kalau permintaannya tidak dipenuhi. Untuk menghindari semua itu Papa selalu menurut. Kalau Mama sih no problem. Sudah dari tadi setuju. Pokoknya segala permintaan anak kesayangannya Mama selalu setuju.
     “Betul kamu engga ikut, Sayang?” tanya Papa.
     “Tita harus mengetik bahan-bahan mading, Pa,” jawabku lesu. Aku iri pada Tasha yang enak-enakan jalan sedangkan aku harus kerja keras mengejar deadline.
     “Nanti, Papa bawain mie pangsit kesukaan kamu, ya?” hibur Papa. Aku mencoba tersenyum manis.
     Baru mulai kerja mengedit dan mengetik bahan–bahan mading, mereka sudah pulang. Wajah Tasha masam. Papa menyodorkan bungkusan isi mie pangsit.
     “Tasha kenapa sih, Pa?” tanyaku heran.
     “Biasa, barang yang dicari enggak ketemu. Papa udah nawarin tas yang lain, tapi Tasha nolak. Ya sudah, selesai makan kita langsung pulang.”
     “Minggu depan kita coba lagi, Pa. Siapa tau ketemu,” timpal Mama sembari membawa segelas sirup mocca dingin kesukaan Papa.

***

SEPERTI biasa Pak Karto mengantar kami ke sekolah. Aku bergegas turun. Dari pintu gerbang Lily melambaikan tangannya.
     “Gila, adik kamu modis banget,” bisik Lily melihat Tasha lewat didepan kami. Walau dia tidak menemukan tas ranselnya tapi Papa berhasil membujuknya dengan sepasang kaos kaki selutut yang gambarnya lucu, ikat pinggang H&R kotak-kotak dan bando manis warna merah-hitam.
     “Lain deh sama kamu yang seadanya,” katanya sambil memandangku prihatin. Aku Cuma tersenyum. Habis mau diapain lagi.
     “Tapi yang penting kan otaknya, iya enggak, Ta?” Biasa deh kalau Lily sudah sok merayu biar dikasih copy-an PR Matematika dan contekan Bahasa Inggris.
Seperti biasa kalau Senin pagi sekolahan mengadakan upacara bendera.
     “Hey, Ta itukan Tasha. Ngapain dia baris di depan? Kena hukum lagi?” tunjuk Novi.
     Ya ampun!
Aku tidak habis pikir kenapa Tasha pakai acara tidak bawa dasi dan topi segala? Padahal tadi Mama sudah mengingatkan. Masak Cuma dianggap angin lalu saja?
     Aku tidak ada selera lagi untuk mengikuti upacara bendera. Doaku semoga upacara cepat selesai dan aku bisa masuk ke kelas tanpa memusingkan lagi masalah Tasha.
     “Anak-anakku, pagi ini Bapak boleh berbangga atas salah satu teman kalian,” lamat-lamat ku dengar kepala sekolah membuka wejangannya. “Tanpa banyak komentar lagi Bapak panggilkan saja Artita Kusumawardhani!”
     Gemuruh tepuk tangan menyadarkan aku yang tengah pusing memikirkan tingkah Tasha pagi ini. “Ta, kamu dipanggil Pak Arif tuh! Ayo, ke depan!” Lily dan Mia kompak mendorong badanku.
     “Selamat Nak Tita, kamu memenangkan juara pertama Sayembara Penulisan se-SMP di Jakarta,” lagi-lagi terdengar tepukan gemuruh yang membuatku sangat bahagia. Aku sama sekali tidak menyangka bakal menang. Berapa kali kuucapkan terima kasih kepada Tuhan.
     Karena ada rapat mading aku pulang naik bis. Tasha sudah pulang duluan, dijemput Pak Karto.
     “Tasha kenapa, Ta, kok pulang-pulang ngambek?” tanya Mama begitu aku sampai. Aku menghela napas jengkel. Kenapa harus Tasha yang ditanyakan duluan. Kenapa bukan piala mungil yang kubawa? Kebahagiaan yang kubawa dari sekolah entah menguap ke mana.
     “Piala apa itu, Ta?” tanya Mama lagi.
     “Menang sayembara penulisan, Ma,” jawabku singkat sambil mencopot sepatu kets dan kaos kaki.
     “Selamat Sayang,” Mama mengecupku sekilas kemudian sibuk memanggil-manggil Tasha dengan suara lembutnya untuk mengajak anak manja itu makan.

***

ENTAH mengapa, tingkah Tasha semakin menjadi. Dia sering meninggalkan les Matematika dan Fisikanya untuk ngeceng dengan teman-temannya ke PI Mall.
     “Belajar apa siang ini, Tasha?” sindirku di meja makan. Tasha cemberut. Tas ransel kulitnya terlihat penuh. Aku yakin isinya pasti baju dan sepatu kerennya.
     Menjelang ujian semester pun Tasha masih doyan ngeceng dan shopping dengan teman segenk-nya. Mama masih saja percaya kalau Tasha pergi untuk les.
     Papa pernah beberapa kali curiga karena hampir setiap hari Tasha pulang menjelang jam tujuh malam, tapi selalu Mama yang datang membelanya. “Biar saja dia belajar dengan teman-temannya, Pa. Daripada di rumah dia juga tidak belajar.”
     “Tasha, kurangi deh acara hura-hura kamu dengan teman segenk-mu. Memangnya selama ini Mbak Tita enggak tahu kemana kamu pergi. Kamu jangan berbohong dengan Papa dan Mama dengan alasan belajar bareng,” aku terpaksa berbicara langsung. Tasha menatapku tajam.
     “Itu urusan Tasha, Mbak! Kalau Mbak mau mengadu ke Papa dan Mama silakan, Tasha enggak takut!”
     “Mbak enggak melakukannya. Mbak cuma ingin kamu jujur. Hanya itu, Tasha,” tapi Tasha mana mau peduli. Dia malah asyik mendengarkan lagu The Sign sambil goyang-goyang kepala. Dengan jengkel kutinggalkan kamarnya.
***

TASHA menundukan kepalanya dalam-dalam. Wajah Mama memerah menahan marah. Papa berusaha menenangkan diri dengan meneguk secangkir kopi.
     Buku rapot Tasha masih terbuka lebar di atas meja. Aku dapat membaca dengan jelas. Hampir semua angka merah. Matematika, Bahasa Inggris, Biologi dan Fisika. Aku tidak heran kalau Tasha tidak naik kelas.
     Hening menyelimuti suasana ruang keluarga sore ini. Lima menit kemudian Tasha mengaku segalanya dengan suara terputus-putus. Mama terpekik kaget tidak menyangka Tasha tega membohonginya. Papa menatap Tasha tajam. Wajah Tasha tertunduk lagi. Lalu dengan suara berat Papa memberi nasihatnya.
     “Kamu harus banyak belajar dengan kakakmu, Tasha. Dia sederhana, pintar, kreatif dan mandiri. Mama juga jangan terlalu melindungi dan memanjakan Tasha. Tapi ini mungkin salah Papa juga,” Papa menarik napas berat.
     “Enggak, bukan Papa yang salah, tapi Tasha, Pa. Maafkan Tasha, Pa,” Tasha menundukkan wajahnya dalam-dalam.
     “Mama yang salah, Sayang. Mama terlalu memanjakkanmu hanya karena kamu sering sakit-sakitan waktu kecil sehingga Mama takut kehilanganmu. Sehingga terbawa sampai sekarang, Mama selalu ingin menuruti segala keinginanmu, Tasha.”
     “Dan untuk Tita, maafkan Mama. Mungkin selama ini Mama sudah berlaku tidak adil terhadapmu. Padahal selama ini Mama bangga terhadapmu. Selamat, ta, kamu juara lagi. Mama bangga, Sayang.” Mama mencium kedua pipiku.
     “Maafkan Tasha, Ma. Selama ini Tasha telah membohongi Mama dan tidak pernah mau mendengar nasihat Mama. Mama mau memaafkan Tasha, ‘kan?” Tasha mulai berani mengangkat wajahnya.
     “Mbak, Tasha juga minta maaf. Hanya karena Tasha iri dengan kelebihan Mbak Tita, Tasha jadi seperti memusuhi Mbak Tita. Walau sebetulnya selama ini Tasha bangga mempunyai kakak seperti Mbak Tita,” Tasha mengecup pipiku. Dengan terharu ku hadiahkan senyum manisku padanya.
     “Tasha berjanji akan mengubah sifat-sifat jelek Tasha selama ini dan Tasha akan belajar sunggu-sungguh.”
     “Bagaimana kabar Glenn, Adre, Vonny, Ivy dan teman-teman segenk-mu itu, Tasha?” tanyaku jail begitu suasana telah netral kembali. Kami asyik menyantap puding karamel dan juice tomat buatan Mama.

     “Selamat tinggal hura-hura,” jawab Tasha mantap. Aku mengangguk setuju. Aku melihat Tasha telah yakin untuk dapat mengubah segalanya. Aku berdoa semoga Tasha berhasil.
****

Hidup Penuh Warna



Ruben boleh berbangga hati, artikelnya mengenai profil Tantri bisa menjadi pemenang lomba. Tapi adakah yang tahu, bagaimana sulitnya problema hidup yang tengah dialami Tantri ?

Cewek-cewek kelas tiga fisik dua asik membicarakan makhluk yang semangat latihan basket di depan kelas mereka. Tantri yang tengah sibuk dengan hitungan fisika mekanika  sedikit terganggu juga. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika Bu Dahlia tidak mengajar, anak-anak yang lain lebih senang bercanda, bermain kartu atau kabur ke kantin.
Tantri mengalihkan pandangannya keluar. Kelas tiga fisik satu tengah olahraga . Cowok yang heboh dibicarakan teman-temannya tak lain adalah Ruben, ketua mading yang simpatik keren dan ramah. Tidak heran kalau dia termasuk cowok idola di SMA Kusuma Bangsa. Banyak cewek-cewek yang mengaharapkan bisa menjadi pacarnya.

Tantri menekuni kembali pekerjaan-nya. Dia tidak termasuk salah satu cewek-cewek itu. Mana ada tampang ? keluhnya dalam hati. Rambutnya dipotong cepak. Bukan dia tomboy,tapi dia memang mempunyai masalah dengan rambutnya yang selalu rontok dan tipis. Tubuhnya yang mungil dan kurus, bukan karena kurang gizi, tapi keadaanlah yang memaksa dia bekerja menjadi pelayan di sebuah cafe kecil sepulang sekolah. Sepulang dia bekerja dia baru bisa belajar. Kemudian membantu Ibu menjahit sampai tengah malam.

Karena kurang istirahat tubuhnya makin kurus. Belum lagi konsentrasi belajar yang semakin serius untuk menghadapi ujian akhir nanti.
“Tri, kamu nyumbang cerpen lagi untuk wakilin kelas kita ya ?” Dion, ketua kelasnya, mengganggu kesibukkannya.
“Nggak bis, yon. Sorry, saya nggak punya waktu.”
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Aku nggak enak sama Ruben nih! Masak Cuma kelas kita yang nggak bisa nyumbang untuk mading minggu ini.”

Tantri menggigit-gigit pensilnya tanpa sadar. Dia jadi tak enak hati juga. Takut nanti Dion menuduh dia sudah tidak mau membuat cerpen lagi. Padahal bukan karena itu tapi kapan dia mempunyai waktu untuk membuat cerpen. Sekarang saja sejak Awi sakit-sakitan, sisa waktu-nya digunakan untuk menggantikan kerja Ibunya membereskan jahitan yang belum selesai.
“Sungguh, yon, bukannya aku nggak mau. Tapi saya nggak sempat. Untuk minggu ini gimana kalau Wedha aja yang buat kartun, minggu depan saya janji deh!”
“Kamu pasti punya stok cerpen kan? Udah deh kamu pakai aja salah satunya,” Dion manatap penuh harap.
“Nggg, masih coret-coretan....”
“Gimana kalau nannti sore aku ambil ? biar nanati malam aku ketik. Soalnya besok cerpen itu harus ada di meja redaksi”
“Tapi...” seketika Tantri panik. Dion bakal ke rumahnya dan dia akan tahu segala-galanya. Padahal selama ini dia sudah mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya. Bukan dia malu tapi dia takut temannya akan sulit menerima dia lagi sebagai temannya.

SMA Kusuma Bangsa sudah terkenal sekolah yang paling bergengsi di kotanya. Sudah terkenal para muridnya serba kaya, pintar dan borju. Sebetulnya Tantri lebih suka memilih sekolah di negeri tapi pamannya yang punya saham di Yayasan Kusuma Bangsa memasukkan dia di sekolah itu. Karena segalanya sudah ditanggung pamannya, Ibunya menurut saja karena yang penting Tantri bisa sekolah dengan baik.
“Gimana, Tri?” tanya Dion membuyarkan lamunannya.
“Kamu pasti Nggak tahu rumah saya deh. Lagipula cerpen saya masih coret-coret, kamu mana bisa baca? Lebih baik kamu pakai saja kartunnya Wedha,” Pintanya dengan wajah panik.
Dion memandangnya serius. Entah seperti ada sesuatu yang disembunyikan Tantri. Sudah lama sebetulnya dia ingin berteman dekat dengan gadis itu tapi sepertinya Tantri tidak memerlukan kehadirannya. Tantri terlalu serius belajar. Waktunya betul-betul dipakai untuk belajar. Jauh berbeda dengan cewek-cewek lainnya. Lihat saja!
Tidak ada guru, bukannya dia ikut membicarakan Ruben tapi malah asik menghitung pr fisika yang ngejelimet itu.
“Oke, tapi minggu besok cerpen kamu harus jadi lho !” Lama-lama Dion tidak tega juga. Dilihatnya Tantri tersenyum manis dan mengangguk kuat-kuat.


P
ulang sekolah dia buru-buru pulang. Kalau telat sedikit saja Bu Mien pemilik cafe itu suka marah-marah. Katanya sih disiplin. Tantri terpaksa menurut saja. Statusnya kan cuma pelayan.
Untunglah dia datang tepat pada waktunya. Setelah mengganti baju sekolahnya dengan seragam pelayan cafe, Tantri mengenakan celemeknya. Sebetulnya dia lelah sekali siang ini. Semalam dia harus bergadang karena harus menyelesaikan pesanan jahitan yang harus selesai hari ini juga. Padahal ibunya sibuk meladeni Awi yang merengek terus meminta perhatiannya.
“Jangan melamun dong, Tri. Tuh, meja nomor tiga pesan pizza, coca cola dan sandwich isis sosis. Antarkan cepat !” perintah mbak Lila yang baru datang dari depan.
Dengan sigap Tantri melaksanakan perintah mbak Lila, kepala pelayan di cafe itu. Diangkatnya pizza yang sudah matang, diiris-irisnya seperdelapan bagian. Diisinya sandwich yang sudah diolesi margarin dengan sosis yang sudah digoreng, salad dan tomat. Kemudian diisinya dua gels ukuran sedang Coca Cola. Dibawa semua pesanan itu ke depan.
Tiba-tiba langkahnya menjadi kaku ketika dilihatnya meja nomor tiga. Ya ampun itu kan Dion dan Kishi ! dengan gemetar Tantri maju juga. Mencoba tersenyum dan menghidangkan makanan seperti biasanya.
“ Tantri, ko di sini?” Tanya Dion dengan wajah terheran-heran.
“Saya kerja di sini” jawabnya berusaha tenang.
Mulut Kishi ternganga. Perubahan wajahnya terlihat jelas. Dia tidak membayangkan mempunyai teman sekelas jadi pelayan ? Seprti tidak kenal, Kishi melahap pizzanya. Tantri segera berlalu karena seorang ibu muda di sudut ruangan sudah tak sabar memanggilnya.

T
antri bisa menduga kalau besok pagi kelasnya heboh dengan kata-kata Kishi yang menyakitkan serta tatapan sinis teman-teman ceweknya. Yang cowok kelihatnnya tidak begitu peduli.
“Shi, berhenti! Kamu jangan menghina Tantri karena dia bekerja menjadi pelayan cafe. Seharusnya kamu malu, Tantri sudah lebih mandiri dari kita semua. Dia bisa nyari uang sendiri dengan bekerja. Sedangkan kita? Ugh, paling-paling cuma bisa menghabiskan kredit card dengan hal-hal yang tidak guna. Shopping, nonton, makan, nongkrong di cafe..”
“Kamu membela dia yon?” Kishi kelihatan hampir kalap. Matanya yang bagus melotot ke arah Dion yang berdiri di depan pintu.
“Ya. Lalu kenapa?” Dion dengan tenang balik bertanya.
“Kita putus, Yon! Putus!” dengan geram Kishi keluar dari kelas.
“Terserah,” Dion keluar juga dari kelas. Tapi memilih arah yang berlawanan. Tantri berusaha mengejar Dion. Tantri tidak ingin gara-gara Dion hanya membelanya, hubungan mereka berantakan.
“Yon, tunggu!” kejarnya.
Dion menghentikan langakahnya dan ditunggunya gadis mungil itu berlari ke arahnya.
“tidak seharusnya kamu membela saya, Yon. Hanya gara-gara saya hubungan kamu dan Kishi jadi begitu. Yon, saya minta maaf....”
Apa-apaan sih kamu, Tri. Itu bukan salah kamu kok. Malah Kishi yang sudah keterlaluan. Hanya karena kamu kerja di cafe saja dia sudah begitu heboh. Padahal apa salahnya kamu kerja? Di luar negeri anak seusia kita sudah bisa kerja part time sepulang sekolah dan mereka tidak malu tapi kenapa di sini jadi aneh?” Dion geleng-geleng kepala tidak mengerti.
“Iklim budaya kita berbeda dangan mereka, Yon. Kita masih malu kalau cuma kerja jadi pelayan. Itu yang menyebabkan pengangguran semakin bertambah,” lanjut Tantri dengan suaranya yang terdengar lembut dan tenang.
Tanpa sadar Dion memperhatikan wajah manis itu dengan kagum. Mungkin karena keadaanlah yang membuat Tantri setenang itu. Dion kagum dan ingin sekali berteman dekat dengan gadis itu.
“Hai, Yon!” sapa sebuah suara tiba-tiba. Serempak mereka menoleh. Sosok laki-laki jangkung dengan wajah simpatik dan keren tersenyum manis. Ruben, bisik Tantri dalam hati.
“Ben, ini Tantri yang suka bikin cerpen. Kenalan dulu deh.”
Ruben menyambut perkenalan itu dengan ramah. Sikapnya biasa saja ketika dilihatnya penampilan Tantri yang sederhana. Berbeda sekali dengan cewek-cewek lain yang sok borju.
“Aku suka cerpen-cerpen kamu. Gimana kalau aku tawarin kamu jadi pengurus mading,” Ruben tersenyum. Keren. Tantri memandangnya terpana. Pantas saja banyak cewek yang ngefans berat.
“Saya tidak bisa,” Tantri melirik Diion.
“Tantri bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Dia sudah tak punya waktu lagi,” Dion ikut menjelaskan.
“Oya? Cafe yang mana?” tanya ruben tertarik.
“Di basement Deli Plaza,” jawab Tantri gugup begitu tatapan Ruben menyergap.
“Ooo,” tanggapan Ruben hanya itu. Kemudian dia dan Dion asik bercakap-cakap seputar mading dan basket. Tantri pamit dan segera menuju kelasnya.

H
ujan turun tanpa permisi. Tantri menetap langit dengan gelisah. Padahal lima menit lagi dia harus sudah sampai di cafe. Kalau tidak Mbak Lila pasti marah-marah.
Dia ingin nekat berhujan-hujanan naik bis. Tapi bis yang ditunggu tidak juga muncul. Mana dia lupa membawa payung. Tantri makin gelisah. Makin tidak sabar.
“Hai, Tri, nunggu bis yah?” sebuah suara dari dalam mobil Starlet yang berhenti tepat di depannya.
Tantri menoleh. Ruben tengah memamerkan senyum manisnya.
“Mau ikut?” tawaran manis. Tantri melirik jam tangan tuanya bingung. Tiga menit lagi.... aduh, bingungnya!
Tantri tidak sempat mikir apa-apa lagi. Dia bergegas naik ke mobil Ruben bukan karena mumpung cowok itu mengajaknya tapi dia tidak ingin melihat wajah Mbak Liala yang menakutkan jika sedang marah.
“Terimakasih, ben,” Tantri bergegas turun. Ruben bukannya pergi malah ikut-ikutan turun. Tantri menghentikan langkahnya dan bengong.
“Aku lapar, boleh dong makan di cafemu,” katanya ringan. Tantri tidak bisa bicara apa-apa lagi. Dia berjalan cepat menuju kitchen cafe.
“Dari mana saja sih kamu, kok telat?” suara Mbak Lila yang judes menyambutnya.
“Maaf, Mbak, hujan,” jawab Tantri singkat. Dia melirik jam dinding dapur dongkol. Cuma telat beberapa menit saja Mbak Lila marah-marah seperti itu. Apalagi jika dia bolos kerja.
Tantri bergegas ke depan. Dilihatnya Ruben duduk di sudut cafe. Tanpa sadar Tantri memandangnya dari kejauhan. Rambut cepak Ruben yang terlihat basah seperti itu membuat Ruben bertambah keren adn gagah.
“Pesan apa, Ben?” tanya Tantri dengan kertas pesanan dan pulpen di tangan.
“Burger, pizza, CocaCola dan es krim coklat, da kan ?” Tantri geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa Ruben memesan makanan sebanyak itu sedangkan badannya masih saja langsing.
Tiga jam Tantri bolak-balik menerima, menyiapkan dan membawakan pesanan tersebut sementara Ruben belum mau pulang juga. Dia masih saja di sudut cafe tekun dengan buku-bukunya.
“Kok belum pulang, Ben ?” tanya Tantri juga akhirnya. Penasaran. Setelah dilihatnya pengunjung mulai agak sepi dan Mbak Lila sudah pulang. Dia merasa bebas kini.
“Mau lihat kamu kerja. Lagipula aku minta kamu ajarin kimia organik,” jawabnya dengan senyum termanis. “Kamu tidak akan usir aku kan ? aku pesan cappucini deh, krimnya sedikit saja, Tri.”
Tantri hanya mengangguk. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar Ruben mau pulang. Lagipula Ruben punya hak untuk berlama-lama di cafe seperti layaknya pengunjung lain.
Kalau tidak sibuk Tantri datang ke mejanya untuk menerangkan kimia organik. Ruben mengangguk-angguk puas. Dia senang dengan cara Tantri menerangakan kimia organik. Jelas tidak berbelit-belit.
“Harusnya kamu yang jadi guru kimia-nya, Tri. Bukan pak Kun yang tidak bisa mengajar....”
“Huss, kasian Pak Kun. Dia kan baru lulus IKIP kemarin mungkin kesulitan cara mengajar,” tutur Tantri lembut seraya mengambil cangkir yang telah kosong dari meja Ruben.
Sampai jam lima Ruben masih di cafe. Tantri melepaskan celemek dan mengganti seragam pelayannya dengan baju sekolahnya kembali. Dia keluar menemui Ruben.
“Ben, kamu tidak inagt pulang, sudah jam berapa nih ?”
“Lho, kan nunggu kamu selesai tugas. Aki ingin mengantarmu pulang,” suaranya masih terdengar ringan. Tantri menatap wajah Ruben  seraya geleng-geleng kepala bingung.
“Tidak usah, Ben. Aku biasa naik bis kok. Lamu pilang saja deh....”
“Lho, kita kan bisa sama-sama. Kamu juga sudah mau pulang kan?” Tantri tidak bisa berkata apa-apa lagi.  Dia lelah menghadapi tingkah Ruben yang aneh hari ini.
Dibirakan Ruben yang membukakan pintu mobil untuknya. Sungguh, Tantri tidak ingin berpikir macam-macam. Fisiknya sudah lelah terkuras untuk sekolah dan kerja.
“Thank’s Ben. Lain kali kamu tak usah serepot ini.”
Suaranya baru terdenagn tegas.
“Aku tidak repot kok. Aku malah senang karena kamu sudah membantu menjelaskan kimia organik. Thank’s juga yah Tri”
Ruben melambaikan tangannya. Tantri masuk ke gang rumahnya tanpa ingin melepas kepergian Ruben lebih lama.

S
udah berapa lama kamu kerja di sini ?” tanya Ruben begitu datang pada minggu sore. Penampilannya terlihat keren dengan kaos polo putih dan jins. Tidak heran kalu sekelompok ABG yang duduk di tengah cafe memandanng Ruben sambil bisik-bisik dan tertawa ceki-kikan. Tantri hanya geleng-geleng kepala.
Tantri mencatat secangkir kopi krim hangat dan pie strawberry di kertas pesanan di meja lain dengan bingung. Baru kali ini Ruben menanyakan banyak hal tentang pekerjaannya.
“Kamu jangan mikir yang tidak-tidak, Tri. Aku hanya sekedar bertanya, apa tidak boleh?”
Tanpa curiga Tantri menggeleng.
“Bagaimana kamu bisa kerja di sini ?” lagi-lagi ruben melontarkan pertanyaan ketika Tantri datang membawakan pesanannya. Tanpa terasa Tantri menjawab pertanyaan-pertanyaan Ruben. Sampai selesai waktu tugas, Ruben juga yang mengantarkannya pulang.

N
ih, kejutan buat lo!” Kishi tiba-tiba melempar koran sekolah edisi bulan ini ke atas meja Tantri. Setengah bingung, Tantri mengambil koran itu. Sesaat kemudian wajahnya pucat.
Masyaallah, Ruben tega memuat kisahnya sebagai pelayandi cafe itu. Di halaman depan itu ada foto Tantri yang masih mengenakan seragam pelayan.  Tantri tak mengerti bagaimana Ruben bisa memotretnya secara diam-diam.
“Puas lo sekarang yah?” Kishi meliriknya tajam. Tantri tak berkata apa-apa. Dirobeknya koran itu dengan gemetar. Tantri tak menyangka Ruben yang disangkanya baik tega membuatnya malu seperti ini.
“Lo kira pelayan kaya lo bisa menarik perhatian Ruben? Jangan mimpi lo!” kata-kata itu menusuk harga dirinya tapi Tantri mencoba berkepal dingin dan tabah menerima semua itu.
Dia pura-pura tak mendengar. Lalau duduk di bangkunya seraya sibuk mengeluarkan buku-buku dan alat-alat tulisnya dari tas ransel.
“Tri, Dion berkelahi dengan Ruben di lapangan basket!” teriak Yosi yang baru datang.
Tantri mengikuti Yosi ke lapangan basket. Gadis itu melihat Dion berkelahi dengan Ruben. Keduanya tidak mau saling mengalah. Sampai akhirnya pak Gio, guru olahraga meleraikannya.
Tantri mengobati wajah Dion yang terluka di UKS.
“Seharusnya kau perlu bembelaku, Yon”tutur Tantri tenang.
“Aku tidak rela Ruben menghinamu, Tri. Apa salahnya kau bekerja sebagai pelayan cafe.”
“Mereka tidak sama cara berpikirnya denganmu, Yon. Sudahlah. Aku tidak peduli lagi,” Tantri menunduk.
Dion memandang wajah lembut Tantri dengan rasa iba. Tiba-tiba saja dia ingin melindungi gadis itu. Ingin memberi apa saja asal gadis yang di hadapannya bahagia.

T
ak sengaja Tantri melihat sosok jangkung yang berdiri di depan kelas tiga fisik satu. Tantri menghindar, memutar, lewat jaln lain. Tapi sosok itu mengejar dan pelan menarik tangannya.
“Tri, aku mau bicara.”
“Maaf, saya buru-buru tugas piket,” dengan pelan juga Tantri mengibas tangan Ruben. Lalu pergi. Tapi Ruben masih terus membututinya hingga masuk ke kelasnya.
“Ben, saya minta. Mumpung masih sepi lebih baik kamu keluar.”
“Tri, biar aku jelaskan...”
“Ben, jangan ganggu Tantri!” keduanya menoleh. Tantri melihat Dion sudah berdiri di depan pintu kelas.
“Yon, aku hanya ingin meminta maaf,” suara Ruben terbata-bata. “maksudku baik kok. Sungguh. Aku hanya mengangkat kisah Tantri sebagai gambaran bagaimana susahnya dia mencari uang untuk membantu meringankan beban keluarganya. Kau tahu, Yon, itu menimbulkan rasa simpatiku hingga aku tertarik unutk menjadikannya profil di koran kita bulan ini....”
“Tapi kau tidak meminta izin Tantri sebelumnya kan?”
“Aku takut Tantri menolaknya....”
“Kau memang pengecut! Kau pikir kau sudah hebat apa” dion menunjukkan kepalan tangannya. Tanrti menggeleng. Menyuruh agar Dion tenang. Ruben tanpa berkata-kata lagi pergi. Sebelum perkelahian itu meletus lagi.
“Saya pikir mungkin maksud Ruben baik dia hanya ingin menulis, memberi gambaran remaja yang baik menurut dia, agar yang lain bisa menilai masih ada anak seperti saya yang harus bekerja pontang-panting membantu meringankan beban ibu.,” suar Tantri tersendat-sendat.
Dion mengangkat wajah Tantri seraya menggeleng.
“Tapi bagaiman tanggapan anak-anak yang lain. Mereka malah mencemoohkan kamu, Tri. Karen mereka selalu hidup serba berlebihan. Mereka mana mau mengerti kesulitanmu, Tri”
“Tapi toh maksud Ruben tetap baik. Walau dia tidak berharap hasilnya seperti itu tapi sya rasa dia telah mencoba.”
Dion memndangnya lurus. Dengan pandangan kagum yang terlihat jelas.
“Kau berjiwa besar, Tri. Aku salut!”
Tantri hanya melemparkan senyumannya. Karena dia sadar, keadaanlah yang membuat dia menerima semuanya dengan lapang dada.

Tidak ada yang tahu bagaiman sulitnya problem keluarganya ketika usai Tantri melaksanakan ulangan umum semester lima. Walau Ruben boleh berbangga hati artikel mengenai profil Tantri menjadi juara kedua penulisan artikel majalah sekolah se-SMA.
Tapi di tengah kebahagiaan seperti itu Tantri menerima kesulitan terbesar dalam hidupnya.
Pun ketika anak-anak kelas tiga fisik dua dengan dada berdebar menunggu hasil rapot mereka. Tidak ada yang tahu bagaimana cemasnya Tantri memikirkan Awi, saudara satu-satunya yang terkena penyakit hepatitis.
 Awi memang harus dirawat di rumah sakit. Untuk itu diperlukan banyak biaya. Ibu Tantri tidak sanggup membayar biaya rumah sakit yang terlalu tinggi. Tabuanga Tantri hasil bekerja menjadi pelayan di cafe amat sangat tidak mencukupi.
Tantri pasrah jika jiwa Awi tak tertolong karena mereka tak dapat berbuat apa-apa lagi. Pamannya tak mau menolong mereka lagi karena hasutan istrinya yang memang dari dulu tidak menyukai mereka.
Bapak Tantri telah meninggal ketika Awi baru lahir beberapa bulan. Bapaknya seorang perantau dari tanah Jawa yanga ingin mencari pengalaman di Sumatera Utara ini. Tak lama kemudian adiknya menyusul tapi kehidupan mereka jauh berbeda.
Ketika Bu Dahlia mengumumkan nilai tertinggi di kelas tiga fisik dua, Tantri tak tampil di depan kelas.
“Mengapa Tantri tak datang?” tanya Bu Dahlia cemas. “Ada yang tahu rumah Tantri? Bagaimana Dion, kamu tahu?”
Dengan lesu Dion menggeleng.
“Tapi rasanyaanak kelas lain mengetahui rumah Tantri. Dia Ruben, Bu.”

Berita itu tersebar ketika semua kelas larut dalam kegembiraan Class-Meeting. Adik Tantri meninggal!
Bu Dahlia, Pak Kun, Pak Gio, Ruben, Dion, Kishi Yosi dan perwakialan Osis melayat ke rumahnya. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau kehidupan Tantri amat sederhana.
Pelan-pelan penyesalan menyelimuti batin Kishi kala dia melihat tatapan kosong Tantri dan Ibunya. Juga kondisi rumah mereka yang amat menyedihkan.
Tanpa ragu lagi Dion menarik tubuh ringkih ke dalam pelukannya. Di dadanya yang bidang, Tantri menangis tersedu-sedu.
“Saya hanya punya Ibu, Yon. Saya tak punya siapa-siapa lagi”
“Huss, jangan gitu. Kamu masih punya kawa-kawan,” Dion membelai rambut Tantri penuh perasaan. ”Dan.. kamu masih punya aku.”
Tantri tak menanggapi apa-apa. Pikirannya masih kacau. Diterimanya semua jabatan tangan para tetanggga yang melayat dengan perasaan hampa.
“Tri, maafkan aku,” Kishi datang memeluknya. Tantri hanya mengangguk. Diterimanya pelukan Kishi dengan hangat.
“Tri, kamu juara satu, selamat!” Bu Dahlia menggenggam tangannya erat. Seperti memberi kekuatan. Tantri mengangguk seraya melihat nilai-nilainya.
Giliran terakhir, Ruben mendekatinya sambil mengulurkan tangan.

“Tri, semoga kamu tabah menerima cobaan ini. Aku yakin kamu kuat karena kamu gadis paling tabah yang kukenal. Kamu mau menerima ku menjadi temanmu kembali kan?”
Tanpa ragu Tantri mengangguk. Ruben memandangnya denngan tarikan napas lega.
Bapak dan Awi telah meninggalkannya dan kini dia hanya memililki Ibu, satu-satu miliknya.
**** 

Nilai-Nilai Kehidupan

Suara Janet Jackson lewat lagunya Runaway membuat kepalanya bergoyang-goyang, asyik mengikuti irama. Hmmm, Lana rasanya ingin buru-buru ke HRC. Enggak sabar ingin jojing.
       Kemeja putih ketat, jins dan bretel keren dengan warna coklat senada dengan sepatu manis yang dibelinya di Sogo kemarin. Karena modelnya yang manis Lana sampai rela mengeluarkan sepuluh lembar sepuluh ribuan dari dompetnya. Ahh, seandainya Yudis tahu. Dia bisa ceramah panjang-lebar. Tentang anak-anak yang putus sekolah, penjaja permen di lampu merah dan peminta-minta di setiap sudut kota Jakarta, ihh, padahal apa hubungannya? Bibir mungil Lana maju beberapa centi. Biasa si   Yudis, suka sok tua!.
       “Lana, Yudis udah datang.”
       “Ya, Mam, suruh tunggu sebentar,” disemprotkan parfum lembut dibelakang
 telingnya. Dan menyambar tas ransel mungil berwarna perak.
       Wajahnya langsung cemberut begitu melihat penampilan Yudis yang cuek bebek seperti biasanya. Memang jika dibandingkan. Ezra cs yang modis-modis itu, penampilan Yudis bisa dibilang cuek bebek.
       Kalau engga ke pesta Tracy sih cuek saja. Nah ini ngerayain ultah Tracy di HRC, Yudis masih tetap saja bercuek-bebek.
Gimana engga kesal. Percuma dong dandan rapi-rapi, kalau Yudis ‘Cuma’ memakai kemeja kotak-kotak biru yang lengan nya di gulung, jins belel dan kets yang engga ketauan warnanya. Putih bukan. Abu-abu engga juga. Dekil! Sengut Lana dongkol.
       “Kamu boleh marah. Lan. Saya minta maaf deh. Suer, saya enggak sempat lagi ganti baju ke rumah. Kalau telat dikit aja kamu ngambek. Makanya dari kampus saya langsung ke sini.”

       “Kamu bisa perhitungan waktu dong,” Lana mendelik sewot.
       “Latihan Mapa molor dari waktu yang direncanakan dan sebagai ketua aku kan engga bisa seenaknya pergi begitu saja sebelum latihan selesai.”
       “Salain itu saja alasan kamu. Mapa-lah, gunung, hutan.... Sori, Dis, aku bosan. Muak! Kau lebih mementingkan kegiatan pencinta alammu ketimbang aku.”
       “Lana,” panggilnya lembut. Lana hanya mengangkat wajahnya sebentar lalu mengendus kesal.
       Sepuluh menit kemudian....
       “Oke, kita jadi pergi, nggak?” Yudis memainkan kunci mobilnya dengan pandangan serba salah. Lana membayangkan suasana HRC yang meriah, rame,serba modis, wangi.  Yudis pasti Cuma jadi tontonan yang aneh di mata mereka.
       “Enggak!” Jawabnya ketus lalu berlari ke kamar. Meninggalkan Yudis yang terbengong-negong. Ugh, sebodo banget! Siapa suruh latihan Mapa enggak ingat waktu.
***

       “Jadi kamu pergi juga sama Erza?” Tracy mengangkat alisnya yang bagus tinggi-tinggi. Lana mengangguk dengan senyum bandel. Tak disangka malam itu Erza menjemputnya. Mengajak bareng ke ultah Tracy di HRC.
       “Terus, Yudis tau enggak?”
       “Enggak lah ya... Mana aku berani. Yudis pasti juga udah balik lagi ke kampus. Ngurusin klub PA-nya itu,” Lana mengelap bibirnya. Disingkirkan gelas tinggi berisi milkshake yang tinggal seperempat.
        “Kamu seharusnya seneng dong punya cowok anak gunung kayak Yudis. Terus terang lho, Lan, cowok idolaku ya kayak Yudis itu. Cuek, baik, sabar...”
       ”Dan dekil?” Potongnya sebel.
       “Kamu kudu maklum dong. Namanya juga pecinta alam. Yang namanya dandan enggak ada di dalam daftar mereka. Emangnya kayak Erza cs yang hobinya shopping, dandan dan nongkrong di cafe ngebanggain kekayaan ortunya. Ihh, cowok kok kayak gitu. Terlalu modis. Aku suka takut lho sama mereka, Lan. Abis cowok kok modis gitu,” Tracy cemberut. Meneguk kopi krimnya sekali lagi.
       “Trac, menurutmu gimana, kayaknya aku ingin putus saja sama Yudis.”
       “Gila kamu. Putus? Kalau memang sudah bosen, kasih aku aja deh. Nggak nolak deh,” Tracy senyum-senyum. Gantian Lana yang cemberut. “Aku serius nih, Trac”
       “Emangnya kenapa sih, Lan? Aku liat Yudis anaknya baik. Sholatnya rajin, kuliahnya bener, anaknya baik. Terus apa lagi? Masih aja kurang? Emang sih kalau dibandingkan dengan Erza cs, Yudis kalah keren. Kalah modis. Tapi apa kamu cuma ngeliat cowok dari soal keren dan modisnya aja? Enggak kan ?”
       “Bukan gitu, Trac. Setelah aku pikir-pikir kayaknya antara kami enggak ada kecocokan. Kamu kan tahu sendiri, Yudis itu pecinta alam, suka buku, anti diskotik, anti mall, sedangkan aku? Kemping aja enggak pernah, baca buku bisa diitung deh, paling doyan ke diskotik dan keluyuran ke mall.”
       “Jadi acara kencan kalian kemana?” Tanya Tracy bingung.
       “Yah, paling cuma ngobrol-ngobrol aja dirumah. Abis ngajakin Yudis nonton juga percuma, dia pemilih banget sih dalam soal film filmnya kelas oscar deh. Kayak forest gump. Sedangkan aku ngerti juga enggak ceritanya. Mau nongkrong di cafe, Yudis vegetarian jadi rada susah milih menu. Ngobrolin musik aja enggak nyambung. Dia ngomongin jazz, aku pop. Penyanyi-penyanyi jazz yang dia sebutin mana ada yang kukenal.”
       “Tapi waktu kamu kenalan pertama kali sama Yudis di kampusnya, Kamu crazy banget kan sama dia. Inget kan, Lan?”
       “iya sih,” Lana senyum-senyum tanpa sadar. “Waktu itu kampusnya ngadain acra amal dan kita diundang untuk fashion show. Waktu itu Yudis ketua panitianya, yang dandanya biasa-biasa aja kalau dibandingin cover boy teman-teman kita. Enggak salah dong aku rada crazy. Abis di mataku, dia macho banget sih!”
       “Terus, sekarang gimana?” Tracy memutuskan kenangan manis itu di mata Lana.
       “Coba dulu deh beberapa bulan. Kalau tetap enggak bisa, yah enggak ada jalan.”
       “Telpon aku ya, Lan. Siapa tau bisa aku labain?” Tracy ngikik. Lana mendelik enggak rela.
***
       “Jadi kamu mau pergi juga?” Tanya Lana sebal yudis jadi serba salah. Menghadapi Lana yang masih kanak-kanak begini memang susah. Harusnya dia memilih teman kampusnya yang sudah dewasa dan feminin. Enggak kayak Lana yang masih SMU, sukanya hura-hura terus.
       “Lan, ngerti dong. Saya pergi kan bukan untuk main-main. Ekspedisi  Alam ini serius banget. Kami bakal ngebahas soal reboisasi, pencemaran lingkungan dan mengadakan penelitian ke daerah-daerah terpencil.”
       “Tapi, Dis, kamu lupa bentar lagi aku ultah.”
      
Yudis tertawa tiba-tiba. Ya, ampuuuun Cuma karena itu. Kirain Lana terlalu menghawatirkan dirinya yang akan ikut Ekspedisi Alam ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
       “Jangan tertawa!” Bibirnya yang mungil manyun. Bikin Yudis gemas. Kalau dibandingkan Tari, ceweknya yang dulu, memang jauh banget. Antara langit dan bumi. Tari itu lembut, dewasa, penuh perhatian. Yudis sangat sayaaang banget sama Tari. Sayang Tangan Tuhan telah mengajak Tari pergi ke rumah putih-Nya.

       Tapi tentu saja hubungan mereka seperti monoton. Enggak pernah ribut Tari terlalu banyak mengalah dan nurut. Yudis kadang jenuh juga. Tapi Lana, Yudis juga suka bingung. Dikit-dikit ngambek,marah, banyak maunya. Tapi terus terang Yudis sukaa banget pada Lana yang cantik ini.
       “Ultahku yang ke 17 kan mau dirayain, Dis. Maunya aku sih semeriah mungkin. Soalnya 17 kan punya arti khusus buat cewek. Kalau kamu enggak datang, gimana dong?” Lana rajuk. Manja.
       “Kalau aku kirim kado aja gimana?” Goda Yudis.
       “Enggak lucu!” Bibirnya kembali cemberut.
“Gini aja deh, Lan. Kita rayain ultah kamu berdua aja begitu aku pulang. Light dinner deh.  I promise,” Yudis memegang tangannya.
       Lana menggeleng.
       “Enggak! Pokoknya aku ingin kamu datang. Kalau enggak, Jangan harap kamu boleh datang lagi. Bruk!” Lana membanting pintu rumahnya. Yudis terbengong-bengong di teras rumah Lana yang tertata asri.
       Duuuh, susahnya! Batin Yudis menggema. Meninggalkan rumah Lana dengan perasaan hampa.
***
       “Lana, Lana, mau kamu tuh apa sih?” Tanya Tracy bingung begitu Lana curhat ketika mereka break section pertama pemotretan.
       “Masak sih dia tega enggak datang di perta ultahku?” Mau taruh dimana wajahku? Pasti model-model kayak Mareta, Vonny, Melly, Selli, Erza, Odi, Resnu akan memandangiku iba. Kasihan banget Lana ditinggalin pacarnya di hari ultah. Yang ke 17 lagi! Tahu gini mending aku enggak punya pacar aja. Atau kalau enggak nerima lamaran Resnu yang keren dan care itu.”
       “Terus kenapa kamu enggak nerima Resnu aja?” Balas Tracy asal-asalan.
       “Feeling enggak bisa dipaksain, trac, you know?”
       “so?”
       “Sekarang terserah Yudis. Kalau sampai dia enggak datang, putus!”
       “Jadi kamu punya alasan untuk putus kan?”
       “Aku sih enggak ingin putus, Trac. Cuma kalau caranya gini, yah enggak ada jalan lain. Emangnya Cuma dia cowok yang ada di dunia ini. Masih ada Brad Pitt, anak-anak Take That yang keren-keren itu...” Tracy ngikik.
       “Sayangnya section kedua pemotretan dimulai lagi. Terpaksa Tracy dan  Lana menghentikan obrolan mereka.
***
       Untuk pesta ultahnya kali ini, Lana merencanakannya sebaik mungkin. Pikirannya sibuk oleh rencana itu. Tak tersisa satu pun untuk memikirkan Yudis yang ternyata lebih memilih ikutan Ekspedisi Alam ketimbang menghadiri pesta ultahnya.
       Tapi Lana tak peduli. Toh teman-temannya banyak. Mereka pasti akan enjoy menikmati pesta ultahnya. Seperti pesta Tracy di HRC kemarin. Tapi lana tidak suka pesta di buat di cafe. Dia ingin di rumah saja. Kebetulan dirumah nya ada kolam renang yang lumayan gede. Dia ingin mengadakan di pinggir kolam renang itu.
       Halaman belakang yang luas itu bisa di pakai jojing sepuasnya. Mereka bisa ngobrol sebebasnya dengan pesta gaya standing party. Ada dua meja besar yang berisi aneka makanan yang mama pesan dari catering-catering yang terkenal di Jakarta. Dari makanan ala Eropa, Jepang, dessert sampai makanan khas Indonesia. Pokoknya lengkap banget. Lana tak ingin mengecewakan teman-temannya.
       “Cepat, sayang, tuh temanmu udah ada yang datang,” Mama datang membantu merapihkan dandanannya. Gaun bermodel simpel warna putih ini dibelinya di butik langganan mama. Dandanan wajahnya senatural mungkin. Hmmm, Lana puas ngikik.
“Cantik anak mama,” mama mencium kedua pipinya. “Selamat ultah, sayang. Papa enggak bisa datang. Masih di Bangkok,” bisik mama lembut. Walau kecewa, Lana berusaha tersenyum manis.
       Pesta ultah yang sweet seventeen ini ternyata tak seindah yang dibayangkannya. Ketika dia akan memotong kue tar, Erza dan gank-nya datang dengan mulut bau alkohol dan gaya yang memuakan. Lalu disusul entah dengan gank siapa lagi. Tak seorang pun yang dikenalnya. Dandanan aneh dengan gaya metal. Gank Erza dan gank metal itu berantem. Entah karena urusan apa rusaklah segala. Kue tar yang indah hancur tak terbentuk, peralatan makan pecah, aneka hidangan terlempar dimana-mana. Kolam renang kotor, tanaman koleksi mama rusak. Oh , My God, Lana tak menyangka akan seperti ini!.
       Mama datang menyelamatkan Lana. Dibawanya ke dalam. Satpam kompleks datang, membubarkan anak-anak yang berantem itu. Teman-temannya pergi begitu saja. Tanpa pamit lagi. Mereka lari ketakutan.
       Tiba-tiba saja Lana jadi ingat Yudis. Dan, Tracy yang tak bisa datang karena omanya sakit. Menyesal pesta sweet seventeen berakhir seperti ini.
***
      
“Lana, udah bangun, sayang?” Mama datang dan duduk dipinggir tempat tidur. Lana mengangguk. Dari balik jendela dilihatnya Mbok Inah, Siti dan Pak Kiman sibuk membersihkan kolam, taman belakang, sisa-sisa pesta tadi malam.
       “Mama harap kamu enggak sedih. Yang penting Lana sekarang udah harus dewasa dalam menghadapi apapun. Ambil hikmah dari kejadian tadi malam. Dalam mencari teman, Lan harus milih yang baik. Enggak bisa kita lihat orang dari penampilan kulitnya aja. Mamah enggak menyangka Erza yang rapih dan kelihatan sopan itu ternyata anak yang enggak benar. Iya kan, Lan?”
       Lana mengangguk-angguk. Mama membelai rambutnya lembut. Segala kesedihan yang dirasakannya seperti pergi dengan belaian lembut itu. Ugh, untuk ada mama. Dia tidak bisa membayangkan jka mama sesibuk papa juga. Pasti nasibnya akan sama dengan Vonny yang melarikan diri kepub atau cafe karena kakurangan perhatian dan ortunya. Meneguk minuman keras, dan ngomong ngaco entah soal apa.

       “Makasih ma?” Lana membalas mencium kedua pipi mama. Mama tersenyum lembut.
       “Non, ada Den Yudis,” beritahu Mbok Inah.
       “Ma, Yudis,” katanya surprais dengan wajah berseri-seri. Mama mengangguk lalu menyuruh Mbok Inah ngambil minuman untuk Yudis. Secepat kilat Lana mandi dan dandan ala kadarnya.
       “Met ultah,”  Yudis menyodorkan beberapa tangkai bawar merah yang terbungkus dalam plastik indah.  “Dis?” Lana terbengong. Tak menyangkan Yudis akan seromantis ini.
       “Enggak usah bingung dong, Lan. Saya terpaksa pulang karena saya kangeeen banget sama gadis manja yang cantik bernama Lana.”
       “Makasih, Dis. Ini gantiin rasa sedihku karena...,” Lana menceritakan segalanya. Dengan serius, Yudis mendengarkannya.
       “Makannya, Lan, enggak usah deh pesta dibuat semewah mungkin. Biar sweet seventeen sekalipun. Yang wajar-wajar aja. Yang pentingkan makna kita merayakan ultah itu. Kalau bisa sih kita tuh intropeksi diri.
       Lana mengangguk. Setuju dengan kata-kata Yudis.
       “Kamu sih enggak pernah ngerayain ultah di gunung. Wah, suasananya nikmat banget deh, Lan. Kita bisa intropeksi diri.” Melihat begitu indahnya alam pegunungan, mendengar kicauan burung dan menghirup udara gunung yang khas, membuat ultah saya waktu itu berarti banget. Kayaknya kalau dibandingin kekuasaan Tuhan menciptakan alam yang begini indahnya, saya enggak berarti apa-apa. Kerdil!”
       “Kayaknya sayang juga ya, makanan yang udah kamu pesan dari catering-catering yang terkenal itu terbuang percuma begitu aja. Padahal kalau kamu kasih ke fakir miskin, betapa bersyukurnya mereka. Untuk makan saja mereka susah. Kamu yang hidup serba berkecukupan seharusnya...”
       “Udah deh, jangan sok tau gitu. Iya, aku tau salah kok.”
       Yudis senyum-senyum.
       “Dis, gimana kalau aku rayain sekali lagi ultahku tapi di rumah-rumah yatim piatu. Kamu setuju, enggak?"
       “Wih, setuju banget. Entar saya bantu deh... bantuin ngabisin makanannya,” Lana cemberut. Kesal. Yudis tertawa puas.
       Brengsek! Dengan ganas dia mencubit tangan Yudis tanpa ampun.

       Lana janji tak akan melepaskan cowok sebaik Yudis. Biar dandanan Yudis Cuek Bebek. Karena Yudis telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang lebih baik daripada yang dianut Lana selama ini.

*****